Jejak Prestasi di Harvard: Dari Langkah Mutiara Baswedan hingga Terobosan Sains Xiaowei Zhuang

Jejak Prestasi di Harvard: Dari Langkah Mutiara Baswedan hingga Terobosan Sains Xiaowei Zhuang

Kabar membanggakan datang dari Mutiara Baswedan, putri Anies Baswedan, yang baru saja mengumumkan langkah besar dalam perjalanan akademisnya. Melalui akun LinkedIn pribadinya, Mutiara membagikan keberhasilannya menembus seleksi beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk melanjutkan studi jenjang S2. Tidak tanggung-tanggung, ia akan menempuh pendidikan di Harvard University, Amerika Serikat, dengan mengambil spesialisasi pada Program Master of Education in Education Policy and Analysis.

Dalam unggahan tersebut, Mutiara menyisipkan pesan perkenalan sebagai bagian dari persiapan keberangkatan angkatan ke-257 atau PK-257 Dala Mawarani. Ia membuka pesannya dengan salam yang sarat makna, “Berakar Dalam Budaya, Bertumbuh Dalam Makna”. Mutiara menegaskan bahwa keberangkatannya bukan sekadar untuk mengejar gelar, melainkan sebuah misi untuk membawa semangat nasionalisme. “Saya berkomitmen untuk membawa semangat nasionalisme serta menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Indonesia dalam setiap langkah perjalanan saya,” tulisnya.

Tekad Mutiara terlihat jelas. Ia menyatakan kesiapannya untuk berkontribusi penuh bagi masa depan Indonesia yang lebih baik. Persiapan keberangkatan PK-257 sendiri dijadwalkan berlangsung pada 16–26 Juni 2025 mendatang. Dengan dedikasi tinggi, ia siap menyerap ilmu di salah satu institusi pendidikan terbaik dunia tersebut.

Pusat Inovasi Global

Lingkungan akademik yang akan dimasuki Mutiara memang dikenal sebagai pusat riset yang terus melahirkan terobosan global. Reputasi Harvard sebagai kawah candradimuka para pemikir brilian kembali dikukuhkan lewat pencapaian salah satu profesornya, Xiaowei Zhuang. Profesor Sains yang memegang gelar David B. Arnold Jr. di Harvard University ini baru saja dinobatkan sebagai penerima Ernest Solvay Prize tahun 2026 oleh Syensqo.

Penghargaan bergengsi ini diberikan atas kepeloporan Zhuang dalam mengembangkan pencitraan skala genom, sebuah inovasi yang dinilai telah mengubah wajah riset biokimia. Mike Radossich, CEO Syensqo, menyebut karya Zhuang sebagai terobosan yang memungkinkan ilmuwan memetakan dan memvisualisasikan organisasi bagian dalam sel dan jaringan pada skala yang belum pernah ada sebelumnya. Penghargaan senilai €300.000 tersebut rencananya akan diserahkan pada 10 Maret di Palais des Académies, Brussels.

“Saya sangat merasa terhormat menerima Ernest Solvay Prize,” ungkap Zhuang. Baginya, pengakuan ini menyoroti pentingnya penelitian yang didorong oleh rasa ingin tahu, serta mencerminkan kerja kolektif banyak mahasiswa berbakat dan kolaborator yang bekerja bersamanya.

Memetakan Kehidupan

Di laboratoriumnya, Zhuang dan timnya dikenal sukses mengembangkan teknologi pencitraan revolusioner. Salah satu temuan kuncinya adalah MERFISH (multiplexed error-robust fluorescence in situ hybridization). Teknologi ini menjawab tantangan besar dalam dunia genomik. Metode lama sering kali mengharuskan pemisahan sel dari jaringan fungsionalnya, sehingga konteks spasial—atau posisi asli sel tersebut—hilang. Padahal, posisi sel sangat penting untuk memahami fungsi jaringan.

MERFISH hadir sebagai solusi dengan memprofilkan molekul RNA langsung di dalam jaringan yang utuh. “Gagasan kami tentang pelabelan kombinatorial dan pencitraan berurutan memungkinkan kami meningkatkan skala hingga tingkat genom,” jelas Zhuang, yang juga merupakan penyelidik di Howard Hughes Medical Institute. Ia menambahkan bahwa penggunaan barcode yang tahan kesalahan memastikan akurasi pengukuran yang tinggi, memungkinkan pencitraan ribuan gen dalam sel individu.

Kekuatan utama MERFISH terletak pada kemampuannya menyatukan identitas molekuler sel dengan organisasi spasialnya. Zhuang mengumpamakan teknologi ini seperti memiliki “Google Maps” untuk sel dalam organisme hidup. “Anda dapat memperbesar untuk melihat detail, atau memperkecil untuk melihat gambaran keseluruhan, dan menginterogasinya secara interaktif,” ujarnya.

Dengan pendekatan ini, para ilmuwan kini dapat menyusun atlas sel jaringan, seperti pada otak manusia, untuk memahami bagaimana sel berkomunikasi dan bagaimana pola-pola tersebut terhubung dengan perilaku serta penyakit. Sebuah ekosistem keilmuan mendalam inilah yang kini menanti para pelajar terbaik dunia, termasuk talenta-talenta dari Indonesia, di Harvard University.

Opini